Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Yasudah

Aku bingung perihal rasa ini Aku perih perihal kenyataan  Aku yg tersesat kedalam lamunan Tersesat kedalam kesendirian Namun, setelah sekian lama Ketidakpastian atas rasa itu datang lagi Kepastian atas rasa ini nyata Namun, nyatanya ini mustahil menjadi kenyataan Hati ini menginginkan mu Tapi semesta menarikmu kembali ke rumahmu. Bukan ke tempat yg ku inginkan kau pulang, yaitu diriku. 

Janji-Nya Pasti

Hari itu,  Tuhan menunjukkan segala kebesaran-Nya.  Tuhan mengambil semua asa dari kenyataan. Impian yang digagalkan,  Kekuatan yang dilemahkan, Isi Hati yang dipatahkan. Satu persatu membuat kita sadar. Bukan karena tuhan benci, Bukan karena tuhan kesal, Tapi tuhan sedang menyayangi kita,  Tuhan sedang menjaga kita, Menjaga dari semua hal-hal lebih pahit yang akan terjadi. Percaya, tuhan tak pernah ingkar dalam berjanji. Janji tuhan itu PASTI. -Putri

Manusia dan Manusiawi

Katanya patah hati itu manusiawi.  Tumbuh itu usaha diri.  Yang mendewasakan, keadaan. Waktu yang membawa kita kepada keadaan. Ranyah, sembuh lagi.  Patah, tumbuh lagi.  Jatuh, bangkit lagi. Sadar? Kehidupan ini berjalan, Namun membuat kita lari. Memang sesuatu yang kokoh, Terlahir dari keras nya peran.  Lalu, apalagi? Jangan cengeng perihal cinta.  Bukankah hidupmu telah terlalu lelah?  Lelap, dan percayalah. Kamu terlalu agung, jika harus merasakan sakit. Bahagia ya, aku bersama mu. -Putri

Jika Saja

Jika saja kau dan aku mengerti kala itu, apa-apa saja yang kita butuhkan. Mungkin, ku padamkan ego yang banyak menghampiri diri. Jujur, telah ku hapuskan semua egoku saat itu. Jika memang selama bersama kau tak bahagia, seharusnya kau katakan dan coba kau putuskan. Aku tidak ingin membencimu seperti saat ini, karena kecewa yg sangat menghancurkan seluruh percaya ku terhadap mu. Tak perlu ragu atas rasa mu terhadap ku, kau benar-benar telah menghampiri segala sesuatu yg baru saja kau temui. Kau tahu, pengakhiran ini tak pernah ku inginkan. Tapi, jika kau bisa sepenuh hati meninggalkan ku demi kepercayaan selain diri ku. Maaf, mungkin menjadi seorang yg sakit hati lalu mengikhlaskan demi diri sendiri itu lebih menyakitkan. Tapi, jika harus ku tahan goresan perlahan yg semakin dalam, mungkin adalah hal paling menyakitkan sekaligus bodoh bagi ku. Karena aku sadar, aku adalah manusia yg mampu melewati seluruh fase kehidupan tanpa mu. -Putri

Lusuh

Aku tahu,  Kuat karena kokoh, lemah karena bisu. Bukankah kita ini hitam? yang selalu menerima segala warna, dan selalu menerima siapa penggunanya. Bukankan kita putih? yang rusak karena setitik warna gelap, yang semakin kusam dimakan debu.  Ah, itu hanya pertanyaan ku saja, k amu tak perlu bingung, k arena semuanya paham t anpa harus dijelaskan,  Seharusnya.              -Putri