Nisan hanya tujuan
Rasanya seperti menggantung, Tanah yang tercampur luka, Harus menerima duka yang di tanam paksa. Semuanya terlihat samar, Bahkan tak dapat lagi ku lukiskan. Jika damai benar nyata, dari mana datangnya? Kita selalu salah terhadap dunia, Kita asing terhadap isinya. Bahkan pada diri sendiri, Entah kemana perginya sejak 13 tahun lalu. Selanjutnya, pasti akan kulalui. Hanya saja, aku tak akan benar-benar pada nisan yang telah ku ukir. Aku lelah pada kecewa, Aku lelah pada penerimaan, Tak ada lagi hati yang lapang, dan tak akan pernah kalian temui lagi, Aku segenggam tanah dengan versi yang kalian ketahui. -Tanah