Dari aku; Badaimu

Aku tidak ingin mengulanginya,
Kesalahan yang membuat ku kehilangan separuh akal sehat ku.
Aku yang kalah oleh keadaan,
Aku yang sulit menerima kenyataan, 
Aku pernah kehilangan tempat ku pulang, bahkan untuk selamanya.
Aku pernah yakin atas seseorang, namun akhirnya dipatahkan.

Lalu, 
Aku berusaha menerima laut yang memiliki banyak teka-teki nya,
Penuh dengan tanya, Ragu dan tenang di dalamnya.
Aku berhasil melupakan langit yang banyak memberikan ku cahayanya,
Namun akhirnya membasahi sekujur tubuh ku dengan badainya.

Tuan, Aku hanya mencintai mu.
Aku mendoakan mu melalui bulan yang terus bercahaya walau jarang orang menatapnya.
Aku mengupayakan kita, lewat angin yang tak pernah pergi dari hiruk pikuk nya alam.
Aku menyayangi mu, lewat gelisah dan khawatirnya daun pada badai.
Aku tidak menilaimu kurang tepat untuk berada di singgahsana mu,
Namun aku meragukan, sebesar apa bahagia yang akan kau tuai jika kau bersama ku.

Tulisan ini untuk mu, dunia ku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Personifikasi

Waktu dalam Kegelapan adalah sebuah Harapan

Prolog Kehidupan