Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Bingar

Jika luka adalah sebuah prasangka, akulah yang membuatnya nyata. Jika luka adalah sebuah puisi, akulah penyair paling lihai. Jika luka adalah sebuah lukisan, akulah pelukis nya. Jika luka adalah sebuah lagu, akulah penulisnya. Jika luka adalah seseorang, akulah orangnya. Kau tahu, akulah luka itu. Luka yang menetap pada diriku. Kesedihan itu nyata, ramai, dan Aku tidak bisa mendamaikan nya. Terus basah, dan bertumbuh.  Bahkan mereka memupuknya. Luka itu terawat, Biar mati yang menghentikan.

Kalah lagi?

Aku yang lihai menggambarkan mu pada penaku, Ternyata akulah manusia paling naif di dunia ini. Ternyata akulah manusia paling Munafik di semesta ini. Aku tidak menjadikan biru sebagai biru, Aku tidak menjadikan cermin sebagai cermin, Aku tidak menjadikan Rindu sebagai hal paling indah yang kurasakan, Ternyata aku kalah, aku tak hanya sekedar menahan rasa itu, Aku menahan amarah yang selama ini tak seluruhnya ku gambarkan padamu. Aku kalah.  Aku kalah pada kecewa, Aku kalah pada amarah.

Selaras

 "Runtuh terbangun, entah sampai kapan" Bait lagu yang selalu membuatku berhasil merenung. Manusia yang dinilai kuat ini, sering menahan kecewanya.  atas tuan dan puan nya atas trauma pikir, dan  atas hubungannya pada hamba lain nya. Aku berhasil menapak kan kaki ku di kehidupan yang nyata ini, Aku paling berhasil menahan kecewa akan egois nya seseorang, Aku juga egois, bahkan mungkin aku memunculkan kecewa pada yg lain. Andai saja, nyawa itu tak di tiupkan kepadaku, Apa yang akan menjadi angan ku? Jatuh bangun, ku angkat lagi tubuh ini Runtuh dan ku bangun kembali, ku paten kan mimpi ku. Aku milik aku dalam pikir ku, Terasa tuhan pada angan saja, Aku tidak pernah meragukan kuasanya, Hanya saja aku bingung, Untuk apa ku diciptakan? Entah sampai kapan, Kecewa ku, akan terus mengerogoti hati, Entah sampai kapan, Damai itu, akan terus kucari.

Majas

Aku tak lagi menggunakan kata langit sebagai prolog disetiap tulisan ku, Aku tak lagi berdialog perihal apa yang menjadi topik duniawi saja, Aku tak lagi menjadikan cahaya sebagai epilog disetiap keinginan ku, Aku berupaya menjadikan tenang sebagai prolog dalam setiap ejaan yang kutuliskan disetiap majas yang kuciptakan, Aku berupaya berdialog perihal apa yang memang menjadi pertanyaan ku selama perjalanan ini, agar tak salah arah lagi. Aku selalu mengusahakan kita sebagai epilog, dalam setiap tujuan ku. Ku yakini kamu bingung perihal, Prolog, dialog, dan epilog dalam tulisan ini. Apa yang ku maksudkan, dan apa yang ku ceritakan. Aku tak lagi menginginkan cahaya di setiap epilog yang ku ciptakan,  Aku tak juga menerima badai di epilog yang ku upayakan. namun, Aku punya tuhan yang memberiku ketiganya dalam setiap hal yang ku temui,  Kamu, Aku, bahkan kita. Di dalam ruangan yang membuat ku ngilu,  Aku menulis ini bersama dingin yang tak dapat ku rasakan. Seperti hal nya ten...