Majas
Aku tak lagi menggunakan kata langit sebagai prolog disetiap tulisan ku,
Aku tak lagi berdialog perihal apa yang menjadi topik duniawi saja,
Aku tak lagi menjadikan cahaya sebagai epilog disetiap keinginan ku,
Aku berupaya menjadikan tenang sebagai prolog dalam setiap ejaan yang kutuliskan disetiap majas yang kuciptakan,
Aku berupaya berdialog perihal apa yang memang menjadi pertanyaan ku selama perjalanan ini, agar tak salah arah lagi.
Aku berupaya menjadikan tenang sebagai prolog dalam setiap ejaan yang kutuliskan disetiap majas yang kuciptakan,
Aku berupaya berdialog perihal apa yang memang menjadi pertanyaan ku selama perjalanan ini, agar tak salah arah lagi.
Aku selalu mengusahakan kita sebagai epilog, dalam setiap tujuan ku.
Ku yakini kamu bingung perihal, Prolog, dialog, dan epilog dalam tulisan ini.
Apa yang ku maksudkan, dan apa yang ku ceritakan.
Apa yang ku maksudkan, dan apa yang ku ceritakan.
Aku tak lagi menginginkan cahaya di setiap epilog yang ku ciptakan,
Aku tak juga menerima badai di epilog yang ku upayakan. namun,
Aku punya tuhan yang memberiku ketiganya dalam setiap hal yang ku temui,
Aku tak juga menerima badai di epilog yang ku upayakan. namun,
Aku punya tuhan yang memberiku ketiganya dalam setiap hal yang ku temui,
Kamu, Aku, bahkan kita.
Di dalam ruangan yang membuat ku ngilu,
Aku menulis ini bersama dingin yang tak dapat ku rasakan.
Seperti hal nya tenang dan percaya,
Keduanya bersamaan, jika dapat kita rasakan.
Keduanya bersamaan, jika dapat kita rasakan.
-Putri
Komentar
Posting Komentar