Ibu, ini anakmu.
Bu,
Aku memangku luka itu kembali,
luka yang dulu ku obati dan hampir sembuh.
kini datang kembali.
Aku memangku luka itu kembali,
luka yang dulu ku obati dan hampir sembuh.
kini datang kembali.
Bu,
Jika saja aku dapat memandangmu lebih lama lagi,
akan ku urai luka dan duka ini agar terus menjadi makna.
Aku haus tak memiliki udara untuk terus ku hirup.
Bu,
Mungkin saja aku bisa dapat mereda,
Menghembuskan seluruh haus ini adalah sebuah keniscayaan,
Aku ingin kau terus berada di bumi, dan berdiri di atas tanah yang nantinya,
Akan menjadi sebuah tikar keabadian.
Bu,
Aku mengulangi nya lagi,
Aku kembali lagi pada raga yang tak luput dari kata selesai.
Aku menginginkan nya, bagai burung yang kehilangkan sangkar,
Tapi bu, aku ingin kau tidak merasa bagai induk yang kehilangan anak-anaknya.
Aku hidup untuk memelukmu,
Membuatkan mu rumah indah nan abadi,
Menyiapkan mu tikar paling aman nyaman,
Hanya akan ada Tawa riang gembira di wajah mu nanti.
Aku akan menyiapkan itu, melalui tubuh yang penuh dengan keangkuhan.
Bu, Sekali lagi.
Aku hanya melihat keresahan mu,
dan, Aku takut melihat mu dengan perasaan itu.
Bu, izinkan aku merasakan kalah, gagal dan takut.
Tapi akan ku jadikan ini sebuah peta dengan makna yang abadi.
dan, Aku takut melihat mu dengan perasaan itu.
Bu, izinkan aku merasakan kalah, gagal dan takut.
Tapi akan ku jadikan ini sebuah peta dengan makna yang abadi.
-Anakmu
Komentar
Posting Komentar