Personifikasi

Nama ku Jingga, aku memaknai hitam sebagai dunia yang ku temui dan ku cintai. Beberapa kali aku kalah dalam perang melawan warna lain yang berusaha merusak hitam ku. Bagi banyak orang, dunia ku hanyalah sebuah imajinasi yang kuciptakan secara kompleks, rusak dan tanpa arah.

Mungkin saja, aku menerima apa yang mereka katakan perihal bagaimana dunia yang ku ciptakan penuh dengan keraguan, tanpa siapapun yang membantu ku untuk memilih apa warna dunia yang akan ku singgahi. Bahkan, untuk mengenali warna lain aku perlu belajar cukup lama. Karena, tidak ada papan warna yang bisa kujadikan pedoman dalam memilih warna apa yang indah untuk kusinggahi. Aku cukup mengerti bagaimana hitam membawaku pada banyak warna, yang akhirnya kalah oleh hitam ku.

Aku Jingga, aku banyak menemukan jingga lain, jingga dengan dunia yang hitam, bahkan aku tidak bisa menyimpulkan, pada garis mana hitam jingga yang lain berada. muda, tua ataukah pekat. untuk mengklasifikasikan hitam, aku cukup lihai. karena sejatihnya, gelap pasti ada sesuatu yang dapat ku deskripsikan. Setidaknya, masih ada yang memilih hitam sebagai lingkaran warna yang dipilih untuk menjadi dunia seseorang, selain aku.

Kadang, aku mencoba singgah pada warna lain, kadang merah, bahkan biru muda. Aku nyaman, tapi aku terlalu takut untuk menerima cahaya yang ku terima dalam dunia itu. Aku merasa tidak cukup sempurna untuk menjadi bagian pada sebuah keindahan. Lalu aku selalu kembali pada dekapan gelap, yang membawaku pada sebuah penyangkalan yang selalu berhasil membuatku merasa cukup dan tidak ingin keluar, pada dunia yang tidak menerima cahaya ini. Sejatinya hitam, hanyalah warna yang menyerap cahaya. Berbeda dengan warna lain, seperti kuning, merah dan oranye yang memantulkan cahaya dan memberikan kesan indah pemiliknya.

Aku cukup meragukan jingga yang tenggelam terbawa gelapnya hitam. Aku menyadari, aku ragu dan aku terus menyangkal "Sampai kapan?" seakan jebakan hitam membawaku pada nyaman yang abadi, yang membuatku yakin bahwa tidak ada keindahan yang menempel pada aku, si jingga. 

Aku memaknai aku sebagai hitam yang tenggelam dalam hitam tanpa berkesudahan. Aku mendambakan keindahan warna lain, yang terus menerus ku coba, namu gagal meyakinkan diri bahwa aku hitam yang indah. Hitam yang membawa warna lain, orang lain dan siapapun yang memilih ku. Aku ingin diterima, aku hitam yang berusaha menghabiskan hitam dengan seluruh warna, yang dapat memudarkan aku dalam kegelapan yang membuatku terkurung pada penyangkalan besar, seakan itulah zona nyaman ku.

Semoga permainan warna ini dapat membawaku pada kesadaran, bahwa sunyi di dalam gelap, hanyalah perangkap kaku yang membuatku mati berkali-kali. Aku ingin masuk melebur pada warna yang lain dan menemukan aku secara penuh dengan nyawa yang membawaku pada keabadian.

-Jingga Mei

Komentar

  1. Bisakah dirimu, jingga berkenalan dengan aku yang bahkan aku belum mempunyai warna dalam duniaku. Izinkan aku meminta warna mu. Boleh?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dalam Kegelapan adalah sebuah Harapan

Prolog Kehidupan