Ekspetasi

Beginilah lelahnya, menopang banyak ekspetasi besar dari banyak orang. 
Beginilah perihnya, menjadi air yang selalu memadamkan api kecewa banyak orang.
Beginilah tertunduknya aku, menjadi seseorang yang ternyata berbeda makna disetiap kepala manusia. 
Aku ini, tidak pernah dengan benar dan dengan penuh menjajarkan realita, dari apa aku ini. 
Lantas, jika ekspetasimu terhadapku berakhir kecewa, apakah itu masih menjadi salah ku sepenuhnya?
Apakah itu salah sikapku yang selama ini terbuka padamu? atau mungkin, Salah hati, mata dan pikiran mu  terhadapku?
Aku tak ingin melahirkan kecewamu yang mungkin datangnya dari ekspetasimu sendiri.
aku tidak dengan penuh menyalahkan ekspetasimu terhadapku, karena itu memang sepenuhnya hak mu.
hak atas menilai aku semudah atau serumit apapun kau memikirkan nya.
Tapi yang perlu kau tahu, 
itu bukan kewajiban ku untuk mewujudkan seluruh ekspetasimu. 
ini semua tentang kemampuan ku terhadap diri ku sendiri,
bukan tentang bagaimana cara memenuhi seluruh ekspetasimu yang dengan liar kau rawat.

-Putriaf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Personifikasi

Waktu dalam Kegelapan adalah sebuah Harapan

Prolog Kehidupan