Biru

Menanggapi asumsi dan ekspetasi, 
Aku berdamai dengan lagu biru.
Angan yang kelabu untuk ku,
Membuat ku bersinyalir pada sendu. 

Bagiku, sejati hanyalah fana.
Tidak pernah benar-benar nyata,
Jikalau fiksi adalah sebuah perjalanan yang nyata,
Semua hanya akan menginginkan paragraf jatuh cinta.
Mencintai dunianya, kekasihnya, manusia terkasih, dan dirinya.

Untuk menciptakan, kefiksian yang nyata. 
Mungkin kita perlu sedikit, rasa ragu.
dan mulai memahami, bahwa semua tak benar ada.

Komentar

  1. Aku tak tahu kenapa memilih biru
    Mungkin karena langit yang kulihat setiap waktu
    Teduh saat pagi, cerah saat siang, dan meninggalkan kerinduan saat senja.

    Bisa jadi juga karena biru selalu hadir di kepala,
    Menguasai seluruh jiwaku
    Melekat di sepanjang ingat, mengetuk hati yang mulai pekat, dan mendekap relung yang terpasung hebat.

    Sampai detik ini biru masih saja bertahta kuat
    Pada raga yang semakin terserang hampa
    Kala pelupuk terpejam kelam, hati terpenjara lara, dan pikiran yang mengadu sendu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Personifikasi

Waktu dalam Kegelapan adalah sebuah Harapan

Prolog Kehidupan