Prolog Kehidupan

Aku tidak tahu kata apa yang dapat mewakilkan kegaduhan dalam sunyi yang terus menerus ku selami. di keadaan ini, diatas tanah yang kering tanpa sedikit pun makna yang mungkin dapat ku termui dalam waktu singkat, maksud ku kehidupan yang ku jalani.

Apa yang harus ku lakukan? apakah ini semua menjadi salah ku, yang membuatku terjebak pada sebuah andai-andai cukup? apakah aku perlu merubah semua? aku terus memikirkan nya tidak. tidak untuk ku lakukan lagi untuk mejadi seseorang yang terus menerus harus banyak menuntut diri untuk terus mendapatkan jawaban, atas pertanyaan yang muncul saat semua terasa dan terlihat tidak selaras dengan apa yang menjadi andai ku. Aku harus banyak berdamai, lagi.

Seakan semua menjadi sebuah kesalahan kompleks yang alur nya terus aku ulangi, padahal aku pun memikirkan dimana letak nya? letak keberadaan ku dan semua ego yang ku punya. Aku terus memikirkan apa yang harus menjadi bagian dalam hidup ku. 

Sekali lagi, aku harus memiliki tembok itu lagi. tembok yang pernah ku bangun dan ku pertahankan dengan kokoh, lalu ku runtuhkan hanya untuk menjadi seseorang yang bersinergi dengan semua kegembiraan manusia lain yang merusak banyak dalam diri. aku mulai menyadari bahwa aku tidak cukup besar untuk membuat semua nya terlihat menjadi sama besar nya dengan apa yang ku andai-andaikan.

Aku akan menutup ku, kesekian kali. Maaf jika hitam menjadi sebuah landasan aman yang membuat ku paham arti mencintai diri sendiri dan semua apa yang ada dalam diri dan hidup ku. Semoga masih aku tetap menjadi bagian warna yang indah, yang membawa ku pada sebuah lingkaran yang membuat ku menjadi sebuah warna yang penuh makna. 

Aku menciptakan aku kesekian kali, aku mati berkali-kali, dan ku bangkit berkali-kali. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Personifikasi

Waktu dalam Kegelapan adalah sebuah Harapan