Postingan

Waktu dalam Kegelapan adalah sebuah Harapan

Belum sampai 15 hari tahun 2026 berlalu. Rasanya, aku telah lelah setengah mati. aku masi memainkan peran yang ku bawa dari tahun lalu, aku belum pernah benar-benar menyelesaikannya.  Aku selalu merasa hampa dan kosong saat langit mempersilakan manusia melemparkan kembang api dengan bersama. Pasti aku memilih untuk terlelap di dalam mimpi tidurku, nyatanya itu jauh lebih baik bagiku. Beberapa kepingan luka lalu masih ada, tidak ada yang berubah dan semuanya masih terasa sama. Yang berbeda hanya saat aku menuliskan tanggal di sebelah tanda tangan ku. Aku masih melihat luka itu berlalu lalang di depan mata kepala ku.  Banyak ketidak adilan yang masih terasa sangat nyata dan rasanya baru saja terjadi. Padahal luka itu ku nikmati sejak tahun lalu, dalam diam dan tanpa suara, tertutup tawa sehingga banyak orang melihatku sebagai manusia utuh tanpa luka dan tanpa dosa dengki di dalam hati. Aku masih mengumpulkan kepingan yang masih terus kucari, bahkan belum dapat kususun setengahny...

Prolog Kehidupan

Aku tidak tahu kata apa yang dapat mewakilkan kegaduhan dalam sunyi yang terus menerus ku selami. di keadaan ini, diatas tanah yang kering tanpa sedikit pun makna yang mungkin dapat ku termui dalam waktu singkat, maksud ku kehidupan yang ku jalani. Apa yang harus ku lakukan? apakah ini semua menjadi salah ku, yang membuatku terjebak pada sebuah andai-andai cukup? apakah aku perlu merubah semua? aku terus memikirkan nya tidak. tidak untuk ku lakukan lagi untuk mejadi seseorang yang terus menerus harus banyak menuntut diri untuk terus mendapatkan jawaban, atas pertanyaan yang muncul saat semua terasa dan terlihat tidak selaras dengan apa yang menjadi andai ku. Aku harus banyak berdamai, lagi. Seakan semua menjadi sebuah kesalahan kompleks yang alur nya terus aku ulangi, padahal aku pun memikirkan dimana letak nya? letak keberadaan ku dan semua ego yang ku punya. Aku terus memikirkan apa yang harus menjadi bagian dalam hidup ku.  Sekali lagi, aku harus memiliki tembok itu lagi. tembok...

Personifikasi

Nama ku Jingga, aku memaknai hitam sebagai dunia yang ku temui dan ku cintai. Beberapa kali aku kalah dalam perang melawan warna lain yang berusaha merusak hitam ku. Bagi banyak orang, dunia ku hanyalah sebuah imajinasi yang kuciptakan secara kompleks, rusak dan tanpa arah. Mungkin saja, aku menerima apa yang mereka katakan perihal bagaimana dunia yang ku ciptakan penuh dengan keraguan, tanpa siapapun yang membantu ku untuk memilih apa warna dunia yang akan ku singgahi. Bahkan, untuk mengenali warna lain aku perlu belajar cukup lama. Karena, tidak ada papan warna yang bisa kujadikan pedoman dalam memilih warna apa yang indah untuk kusinggahi. Aku cukup mengerti bagaimana hitam membawaku pada banyak warna, yang akhirnya kalah oleh hitam ku. Aku Jingga, aku banyak menemukan jingga lain, jingga dengan dunia yang hitam, bahkan aku tidak bisa menyimpulkan, pada garis mana hitam jingga yang lain berada. muda, tua ataukah pekat. untuk mengklasifikasikan hitam, aku cukup lihai. karena sejatihn...

Akan-kah?

Aku kembali lagi pada keraguan,  Keragu-raguan yang menyiksa. Seakan tajam menusuk rusuk yang membawaku pada ketenangan. Aku menarik diriku, pada keramaian yang sunyi. Aku bersembunyi, pada rasa yang membuatku nyata. Aku ragu, benarkan ini takdir? ataukah Kemustahilan yang ku paksakan nyata? Aku memusuhi dunia ku, Aku menjauhi diriku, karena yang ku tahu. Semua ini Meragukan. Akankah keyakinan ku mampu meyakinkan ragu? ataukah, yakin hanya sebatas keindahan rasa terhadap tuhan? Entah, mungkin aku hanya perlu sedikit waktu. meyakinkan ragu yang membuat ku berlagu pada ketidakpastian. -Putri

Ibu, ini anakmu.

Bu,  Aku memangku luka itu kembali,  luka yang dulu ku obati dan hampir sembuh. kini datang kembali. Bu,  Jika saja aku dapat memandangmu lebih lama lagi, akan ku urai luka dan duka ini agar terus menjadi makna. Aku haus tak memiliki udara untuk terus ku hirup. Bu,  Mungkin saja aku bisa dapat mereda, Menghembuskan seluruh haus ini adalah sebuah keniscayaan, Aku ingin kau terus berada di bumi, dan berdiri di atas tanah yang nantinya, Akan menjadi sebuah tikar keabadian.  Bu,  Aku mengulangi nya lagi,  Aku kembali lagi pada raga yang tak luput dari kata selesai. Aku menginginkan nya, bagai burung yang kehilangkan sangkar, Tapi bu, aku ingin kau tidak merasa bagai induk yang kehilangan anak-anaknya. Aku hidup untuk memelukmu,  Membuatkan mu rumah indah nan abadi, Menyiapkan mu tikar paling aman nyaman, Hanya akan ada Tawa riang gembira di wajah mu nanti. Aku akan menyiapkan itu, melalui tubuh yang penuh dengan keangkuhan. Bu, Sekali lagi. Aku hanya ...

Lembu

Merenungi perjalanan yang tak tahu arah ini, Menampar ku dengan rasa perih yang tak lagi dapat ku gambarkan. Menghancurkan ku perlahan pada rasa yang tak bernyawa. Andai, kamu tahu.  Angin menimpaku bagai batu yang terjun dari atap langit, Sinar menyinariku bagai neraka di kedua pelupuk mata ku. Aku hampa dan tak tahu arah, Sebagian orang menertawakan ku, gila bisik nya. Aku terus mencari deskripsi apa aku sebenarnya, Apakah manusia dengan segala kepedihan dan kesedihan nya, Apakah manusia dengan segala tangis dan tragis nya. Ku pikir keempatnya pertanyaan adalah jawaban nya. Menjauhlah, dari ku. Izinkan ku, Mengasing. Kasihan, aku. -Putri 

Tulah anak perempuan

Aku kembali lagi kepada sebuah pengharapan, Kematian yang terus terulang, tulah. Aku menghidupi aku di tengah mati yang kesekian kali ku lalui. tertimbun rasa yang ku ukir dan ku warnai sendiri. lalu, aku berjalan pada senyap nya ruang kecil. gelap, tersandung dan perih. Kesalahan ku, memasuki reban yang bukan untuk ku. Aku pemgumpamakan pengharapan itu, Bagai kering kepada air. -p